Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Penemuan potongan arca kepala brahma dan kucur candi di areal Punden Pandegong menguak fakta baru terkait lokasi penemuan arca yaitu di makam keramat Pandegong, yang diyakini sebagai lokasi makam yang dipercaya sebagai pesarean Mbah Nambi Suro dan Mbah Ijo. Dua leluhur ini merupakan orang yang pertama kali membangun kampung dengan membabat Desa Kwasen yang dulunya merupakan hutan belantara

Jalan setapak menuju makam

Tempat punden tak jauh dari jalan utama desa, dan mudah terlihat dari jalan dimana warga berlalu-lalang. Ada jalan setapak kecil untuk mencapai lokasi dengan menyusuri lahan dari bibir jalan raya desa.


Areal Makam Pandegong dari kejauhan

Ketika Jombang City Guide berkunjung banyak orang sedang berada di areal makam. Sepertinya sudah banyak wartawan dari media lokal yang telah mengunjungi makam keramat ini.

Ramai orang nongkrong

Sekitar pukul tujuh pagi, areal makam ini sudah ramai oleh orang-orang seperti biasanya, entah sekedar nongkrong atau berziarah. Beberapa pria tua dan muda, bahkan anak-anak berada di lokasi punden. Sayangnya, anak-anak seusia SD di masa liburan sekolah jeda semester itu diantaranya sedang bergantian merokok .

Perokok usia dini

Menurut KBBI, punden adalah tempat terdapatnya makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa. Memang, areal makam Pandegong adalah lokasi makam dua pendiri desa kwasen yang disemayamkan bersebelahan di areal punden ini. Namun hanya terdapat satu nisan di punden ini. Ini disebabkan kesalahan pembangunan nisan dan keterbatasan dana. Sehingga hanya makam Mbah Nambi Suro yang diberi nisan dan dinaungi terpal biru. Sedangkan Makam Mbah Ijo di sampingnya, sudah rata dengan tanah.

Makam sesepuh desa

Makam keramat Pandegong, berdiri di atas sebuah lahan yang berada di ketinggian yang melebihi sawah di sekelilingnya. Menurut Cak Jayadi, di pinggiran areal makam ini dulunya ada sebuah liang yang bisa dimasuki orang seperti terowongan. Karena tidak berani merusak pondasi makam dan tidak berani melanjutkan penggalian dan khawatir merusak tempat keramat, liang tersebut ditutup.

Konon dulunya ada terowongan

Berdiri lebih tinggi dari areal sawah sekitarnya

Saat Jombang City Guide memasuki area punden, terlihat banyak tumpukan bata berserakan di sekitar makam, yang dikumpulkan di bawah pohon. Puing-puing batu bata tersebut berukuran besar, lebih besar dari batu bata produksi zaman modern. Ini merupakan bukti bahwa batu bata ini berasal dari zaman kuno yang memiliki nilai sejarah. Batu bata tersebut banyak yang sudah terpecah, dan berwarna hijau karena ditumbuhi jamur karena saking tak terperhatikannya.

Bata berserakan seperti potongan puzzle

Lokasi bata yang tersusun rapi

Di sisi timur makam yang masih dalam satu area, terdapat batu bata yang tersusun rapi dan sedikit menyembul di permukaan tanah. Seperti tumpukan bata lainnya, ukurannya jauh lebih besar dari bata pada umumnya. Meski tidak terlihat bentuk bangunannya karena terkubur dalam tanah, namun tatanan batu bata kuno itu seperti sebuah pondasi bangunan.

Tatanan Bata yang rapi
Saat Jombang City Guide mengamati tatanan bata itu, Cak Jayadi mengambil salah satu bata tersebut. Semua bata yang tertata rapi itu berukuran jumbo, lebih besar dari bata produksi zaman modern. Menariknya saat bata diambil, masih ada bata lain yang tertata rapi di bawahnya. Begitu seterusnya.

Bata ukuran jumbo

Tatanan bata ini sepertinya adalah sebuah bangunan yang ditumpuk menggunakan metode gesek, yang merupakan metode bangunan zaman dulu dimana belum ada semen. Hebatnya, hanya dengan metode gesek teknologi lampau ini tanpa semen bangunan sudah bisa berdiri dengan tatanan yang terpasang rapi.



Dari pengamatan tersebut, disinyalir bangunan di samping Punden Pandegong dulunya adalah pondasi sebuah candi atau bangunan dari kerajaan kuno. Dalam kultur masyarakat Hindu kuno, di sebuah desa setidaknya terdapat sebuah bangunan suci. Situasinya mirip dengan di zaman sekarang dimana umat islam di Indonesia memiliki masjid dan mushollah untuk ibadah.

Saat diambil satu bata,
Di bawahnya masih ada bata lainnya

Bangunan yang terdapat dalam area punden dianggap suci oleh masyarakat setempat, berfungsi sebagai pemujaan atau penghormatan terhadap leluhur terkait. Biasanya, di dalam bangunan suci tersebut ada sebuah arca dewa yang merupakan arca perwujudan. Karena fungsinya sebagai tempat persembahyangan, masyarakat kemudian menganggapnya sebagai tempat keramat yang  biasanya punya nuansa mistis.

Pohon besar

Banyak pohon yang tumbuh di atas areal makam, dan ukurannya tidak kecil. Karena tinggi dan besarnya, pepohonan itu mengayomi bagian bawahnya sehingga punden terasa sejuk dan rindang. Pohon-pohon itu salah satunya roboh yang kemudian berujung penemuan potongan arca kepala brahmana dan kucur candi oleh Cak Hari, sapaan akrab Pak Jayadi.

Cak Jayadi Sang Penemu Arca

Bagian tubuh arca masih belum ditemukan begitu pula dengan bagian lain dari kucur candi. Entah hilang atau masih terkubur di dalam tanah. Belum diketahui pasti bagaimana kedua benda itu bisa terkubur di dalam tanah. Bisa jadi memang bagian yang lain dari dua bongkahan benda kuno itu masih terkubur di dalam tanah, atau bisa jadi merupakan benda pusaka yang sengaja disimpan leluhur Desa Kwasen di punden, mengingat tempat tersebut adalah makam pendiri desa yang dikeramatkan.

Yoni Pandegong

Selain itu terdapat yoni dari batu andesit berbentuk segi empat di di samping makam. Dulunya juga terdapat lingga perlambang Dewa Siwa di samping tumpukan bata kuno diantara pohon. Lingga biasanya diletakkan di cekungan yoni, dimana lingga biasanya juga berbentuk arca perwujudan yang dipuja di dalam bangunan. Sayangnya,lingga di punden Pandegong sudah hilang dicuri orang.

Rizal

Yoni adalah sebuah obyek cekung atau berlubang yang umumnya di Indonesia berbentuk persegi dengan empat sudutnya. Di beberapa daerah di Indonesia, yoni disebut juga lesung batu karena menyerupai sebuah lesung dari batu. Namun ada kalanya yoni di nusantara menyimpang dari pakem lingga yoni, berbentuk tidak lazim, unik, maupun dilengkapi dengan ukiran yang detail seperti Yoni Gambar di Japanan, Mojowarno, tak jauh dari Kwasen. Keunikan tersebut terjadi karena faktor yang berbeda-beda sesuai letak geografis dan situasi maupun politik yang melatarbelakangi pembuatannya.

Yoni yang berada di antara pohon

Yoni ini sebagai tempat menampung air suci berenergi dewa untuk minum maupun membasuh wajah para peziarah untuk mendapatkan keberkahan. Sampai sekarang, beberapa peziarah datang ke tempat ini untuk memanjatkan doa. Tampak di sekitar yoni masih ada sesajen berupa bunga-bungaan yang ditebarkan. Pemujaan juga dilakukan sengan cara membawa sesembahan utama berupa kepala hewan. Sedangkan sayur-sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan dan wewangian tergolong sebagai pelengkap.

Sesajen

Meskipun masyarakat zaman sekarang tidak lagi memperayai animisme dan dinamisme, anggapan bahwa punden sebagai pemberi berkah dan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kelimpahan rezeki pada masyarakat masih tetap ada. Terbukti, peziarah Punden Pandegong ini datang dari berbagai kota, tak hanya dari Jombang saja. Beberapa dari Ngajuk, Blitar, dan Mojokerto yang biasanya datang di siang hari hingga sore.

Kendi kecil di sekitar yoni

Yoni berpasangan dengan lingga. Lingga mempresentasikan dewa siwa secara simbolik sedangkan yoni melambangkan Dewi parwati, istri siwa. Yoni adalah perlambang ibu, kesuburan dan bumi pertiwi yang diwujudkan dalam sebuah pemukiman. Fungsi yoni selain sebagai petirtaan air suci juga sebagai pengukuhan tahta seseorang yang Berjaya di suatu tempat, dan memperingati suatu peristiwa penting misalnya sebuah kemenangan dalam perang.


Lingga dan yoni ditemukan paling sering berada dekat candi, atau bertempat di satu area dengan bangunan candi. Karena itu biasanya yoni ditemukan bersama sisa bangunan. Dengan adanya pasangan lingga dan yoni di suatu tempat seperti yang diletakkan di bilik bangunan candi adalah bukti bahwa dulunya lokasi Punden Pandegong adalah peribadatan berupa pemujaan sekaligus menandakan daerah tersebut termasuk wilayah yang subur.

Subur

Dengan ditemukannya arca brahma ini makam keramat ini bisa ‘dibaca’ sebagai tempat suci untuk pemujaan kaum brahmana. Arca Dewa Brahma adalah simbol pemujaan, mengingat Dewa Brahma adalah salah satu dewa dalam agama Hindu, yang dianut masyarakat kuno di zaman kerajaan terdahulu, termasuk Kerajaan Majapahit.


Belum jelas kerajaan mana yang memiliki dan membangun situs ini, namun diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang memang biasanya membangun beberapa bangunan dengan pondasi bata. Karena tidak ditemukan angka tahun dalam situs, belum diketahui pasti kapan era candi ini , apakah di masa awal atau akhir kerajaan. Maka perlunya peninjauan lebih lanjut dan eskavasi untuk benar-benar memastikan fungsi candi.

Susunan bata sebuah bangunan kuno yang diyakini sebuah candi

Meski diyakini kompleks ini dulunya adalah tempat suci di era kerajaan Majapahit, menurut arkeolog Jombang dari tim Laskar Mdang telah berani memastikan bahwa candi ini dulunya adalah pura pemujaan yang ada di pemukiman kaum brahmana yang berada di luar areal istana. Tampak dari yoni yang berbentuk segi empat tanpa ukiran dan adanya arca brahmana sehingga situs ini diyakini tidak dibangun atas perintah istana. Selain itu tim Laskar Mdang menyimpulkan, wilayah Kwasen dulunya memang bukan bagian dari Madyopuro atau Kota Raja yang tercantum dalam Kitab Negarakertagama.

Puing-puing bata

Punden yang dijaga oleh Pak Jayadi dipercaya sebagai makam Mbah Nambi dan Mbah ijo ini memang dianggap keramat oleh warga sekitar hingga kini.  Belum diketahui apa hubungan Mbah Nambi Suro dengan Patih Nambi yang merupakan salah satu patih di era Kerajaan Majapahit pendahulu Patih Gajah Mada yang paling tersohor itu, apakah orang yang sama atau memiliki kesamaan nama saja.

Mengajukan syarat penyerahan

Wajarlah bila Cak Jayadi, Sang Penemu potongan arca kepala Brahma dan kucur candi sekaligus juru kunci makam memberikan syarat penyerahan benda temuannya untuk Balai Purbakala Trowulan dan pemerintah untuk memugar makam keramat dan membangun kuncup di atas punden kuno beserta fasilitas areal makam supaya lebih layak.

Makam Keramat

Ditengarai masih banyak yang terkubur dalam situs Pandegong mengingat ada banyak bata kuno yang berserakan di samping makam dan tempat ini tersusun dari pondasi bata berukuran jumbo yang tertata rapi, mirip seperti Situs Sugihwaras dan Situs Karobelah yang ditemukan di tahun yang sama.

Tatanan Bata yang tinggal reruntuhannya

Kondisi candi memang sudah rusak dan tidak memungkinkan dilakukan pemugaran. Meski kondisi candi sudah rusak dan tak diketahui bentuk aslinya, tetap diperlukan adanya koordinasi dari pemerintah kabupaten supaya bisa menyelamatkan sisa candi. Setidaknya reruntuhan yang ada bisa diamankan supaya tidak semakin rusak.

Puing-puing candi

Masih ditunggu upaya dan izin eskavasi dari pihak berwenang terutama dari Disbudpar Jombang sehingga harapan bisa menemukan badan brahma dan candinya sekaligus bisa terwujud. Besar harapan warga Jombang tempat ini bisa dijadikan destinasi ziarah maupun spot wisata baru yang akan menambah deretan peninggalan kerajaan kuno yang ada di Jombang.

Areal candi misterius

Keseriusan pemerintah untuk menjaga dan melestarikan benda cagar budaya ini sangat dinantikan karena merupakan kewenangan pemerintah daerah sesuai UU nomor 11 Tahun 2010. Selain itu juga sangat penting untuk generasi mendatang, terutama anak muda di Jombang yang harus berbangga karena dulunya di Kota Santrilah berdiri  ibukota salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di nusantara.

Puing bata jumbo

Selain itu, guru-guru sejarah di Jombang dan seluruh nusantara hendaknya memotivasi para siswanya untuk menghargai peninggalan sejarah bangsanya, supaya bila ditemukan lagi situs bersejarah yang menjadi cikal bakal perjalanan bangsa ini, benda kuno tersebut bisa diselamatkan dengan sebaik-baiknya. Sehingga niat menjual benda cagar budaya seperti yang hampir dilakukan Pak Jayadi dan Rizal tidak lagi terjadi karena sudah adanya kesadaran tinggi atas nilai-nilai sejarah bangsa ini. Selanjutnya, kita sebagai generasi muda yang bertanggung jawab menjaga peninggalan kuno ini supaya tetap lestari.

Generasi Muda

Generasi Penerus Bangsa

Peninggalan sejarah itu sepertinya terkubur rapi di bawah tanah, mengingat adanya bencana alam dan letusan gunung meletus yang mengakibatkan terkuburnya banyak situs kuno di Jombang. Memang, wilayah ibukota kerajaan majapahit dan beberapa kerajaan pendahulunya berada di daerah Jombang. Tinggal menunggu waktu saja penemuan-penemuan ini menyeruak ataupun tak sengaja ditemukan.


Makam Keramat Pandegong
Punden Mbah Nambi Suro dan Mbah Ijo
Kwasen, Menganto, Mojowarno



Dalam Prasasti Poh Rinting dinyatakan bahwa Dang Acaryya membuat permohonan kepada raja dan Sang Prabu pun mengabulkannya, dengan menetapkan Desa Poh Rinting yang memiliki bangunan suci dimana masyarakat desa setempat berkewajiban untuk memeliharanya.

Tanggal Prasasti Poh Rinting dikonversikan oleh Damais (1955) dengan tanggal 23 Oktober 929 Masehi. Prasasti Poh Rinting, ditemukan di Dusun Glagahan, Desa Glagahan, Kecamatan Perak,Kabupaten Jombang yang saat ini sudah diboyong dan disimpan di Museum Purbakala di Trowulan dengan nomor inventaris 82.


Tak dijelaskan lebih dalam bangunan suci jenis apa yang tertera di Prasasti Poh Rinting. Namun, tahun 1980an ditemukan candi yang terbuat dari batu bata merah. Ukuran candi sekitar 2,6m x 2m dengan beberapa batu bata berukir yang sudah dibawa peneliti arkeologi Jatim ke Trowulan. Melihat bentuknya, candi ini diperkirakan berjenis petirtaan mirip Candi Tikus dan Situs Sumberbeji.


Karena ditemukan di Desa Glagahan, maka Candi ini disebut Candi Glagahan dan telah terdaftar sebagai benda cagar budaya oleh BPCB. Candi Glagahan ditemukan di belakang rumah Ibu Tonah, yang juga bersebelahan dengan makam. Diperkirakan, Candi Glagahan dibangun di era Mpu Sindok berdasarkan Prasasti Poh Rinting yang sudah menyebutkan adanya bangunan suci yang harus dipelihara penduduk setempat atas permohonan Dang Acaryya.


Kala itu, Candi Glagahan Sempat dieskavasi tahun 1981 yang kemudian ditutup kembali sekitar tahun 1985. Seperti tampak pada potret, anak terkecil yang ada dalam foto kini sudah membangun keluarga sendiri dan setidaknya sudah memiliki dua anak. Tak dijelaskan tahun berapa potret Candi Glagahan yang ada ini diambil, diperkirakan foto ini diabadikan diantara kala Candi sudah berhasil dieskavasi dan sebelum diurug kembali.


Saat ditemukannya Candi Glagahan, animo masyarakat begitu tinggi hingga selalu dipenuhi oleh pengunjung yang ingin melihat penemuan baru ini. Mereka tampak senang dengan penemuan benda purbakala yang ada di Jombang, hingga akhirnya sempat menjadi destinasi wisata dadakan.

Lihat itu di atas, heboh kan. Awas mbrosot lho

Namun, animo masyarakat yang tinggi kala itu juga dibarengi oleh para pencari wangsit yang kerap melakukan ritual dan semedi di Candi Glagahan, hingga meresahkan warga sekitar. Tak jarang aktivitas mereka mungkin dinilai cukup mengganggu sehingga akhirnya Candi Glagahan diputuskan untuk diurug kembali tahun 1985.

Kini kondisi Candi Glagahan tak lagi bisa dikenali karena sudah terkubur di dalam tanah. Hanya warga setempat saja yang tahu dimana lokasi tepatnya. Yang jelas sisa urugan pun sudah tak terlihat setelah berlalu beberapa dekade lamanya, meski beberapa 'spesimen' batu bata berukir motif bunga dan daun yang sangat cantik sudah diamankan di Museum Trowulan untuk sampel.



Baru-baru ini dinas terkait kebetulan berencana untuk melakukan restorasi Candi Glagahan. Namun kehebohan penemuan Candi Petirtaan Sumberbeji agaknya menggeser rencana tersebut hingga harus tertunda lagi. Sepertinya Candi Glagahan harus bersabar lagi untuk dimunculkan kembali ke permukaan.

Jombang City Guide belum berhasil mengunjungi lokasi candi ini. Doakan semoga segera diberi kesempatan untuk mengambil gambarnya, meski sudah tak terlihat bentuknya sama sekali. Namun, menjadi sesuatu yang makin menarik dimana ada penemuan baru yang juga ada di Glagahan Perak yang diperkirakan merupakan banteng struktur yang ada sebelumnya, atau bekas pemukiman kuno yang mungkin merupakan sisa jejak masyarakat yang diamanati untuk memelihara bangunan suci yang disebutkan dalam Prasasti Poh Rinting.

Besar harapan Jombang City Guide, di tengah ramainya penemuan benda purbakala di Jombang akhir-akhir ini, hendaknya pemerintah dan pihak BPCB bisa segera mengeskavasi ulang Candi Glagahan yang juga tak kalah menariknya dengan penemuan lainnya.

Tapi, bisa jadi masih ada bangunan suci lain yang terkubur dan belum terkuak di Glagahan??? Mungkin saja.


Candi Glagahan
Samping Makam, Belakang Rumah Bu Tonah
Dusun Glagahan, Desa Glagahan
Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang



Btw, Apriliya Oktavianti  dari situsbudaya.id monggo kopas-kopas sepuas-puasnya ya. Nanti silakan pura-pura lupa cantumkan sumber seperti biasanya, 'kan ya??? Haseeek, hasek hasek haseeeekkk!!!


Sebuah patok batu andesit berdiri agak miring di tengah sawah. Patok batu itu bukan sekedar tugu biasa. Patok batu itu, menjadi asal usul sejarah Desa Watu Galuh yang kini hari jadinya didasarkan dari penetapan lokasi itu sebagai ibukota Kerajaan Mataram Kuno dalam era Wangsa Isyana yang dipimpin Mpu Sindok, Sang Mahamantri Rakyyan i Hino.


Penduduk setempat menyebut patok Watu Galuh ini sebagai Watu Mbah-Mbeh, yang entah darimana penamaan ini berasal. Patok ini mungkin sebuah srandu yang menandai lokasi tertentu sebagai bagian dari batas kota. Jika memang benar, maka bisa jadi masih ada patok batu yang lain sebagai penandanya. Mirip dengan konsep yoni naga raja milik Majapahit yang menjadi pembatas wilayah ibukota kerajaan.



Patok Batu itu, berdiri agak oleng bak Menara Pizza di Dusun Nanggalan, Desa WatuGaluh Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Bentuknya mirip tombol, dengan ujung bundar. Bagian bawahnya, agak sedikit kuat sudutnya hingga membentuk empat sisi dimana makin ke atas batu ini bentuknya makin melengkung hingga jadi bundar. Menariknya, satu dari empat sisinya yang menghadap ke barat memiliki guratan yang mirip dengan relief dalam candi. Relief di bagian kiri itu bergambar orang yang mirip tokoh Semar atau Bagong gondrong dengan badan berisi dan menghadap ke kiri. Di depannya, terdapat relief daun yang berada di bagian kanan.


Dari tampilan relief itu Asmara Garudhara, pakar pembaca relief benda kuno jawa timuran, menebak bahwa batu ini merupakan sejenis sengkalan memet atau semacam surya sengkala. Sengkalan merupakan sejenis penanda waktu di era kuno, yang memberikan informasi tahun dimana benda ini dibuat dan beberapa detail lainnya.


Terbukti terdapat ukiran orang dan daun yang biasanya menunjukkan angka tahun dimana batu ini dibuat atau sebagai penanda waktu kala itu. Penanda waktu di sini bukan berarti sebuah jam penunjuk waktu seperti yang ada di zaman modern, namun sebagai angka tahun yang menampilkan informasi peristiwa penting yang menjadi alasan bagaimana sengkalan ini dibuat.


Sengkalan merupakan penanda waktu yang biasanya menunjukkan angka tahun yang memang biasanya dipakai untuk menandai lahirnya seseorang, berdirinya suatu lembaga, daerah, kota atau negara. Sengkalan bisa juga untuk menandai kematian, berakhir atau bubarnya sesuatu atau bahkan sering digunakan untuk menandai peristiwa penting yang juga bisa menggambarkan kondisi politik doa dan harapan. Bila di zaman modern, mungkin sengkalan ini semacam plakat atau vandel dari marmer yang kerap digunakan saat peresmian acara atau lokasi baru.


Dalam hal ini, Watu Mbah-Mbeh yang ada di Watugaluh bisa jadi merupakan sengkalan penanda waktu dan penunjuk lokasi dimana dipindahkannya ibukota Kerajaan Mdang dari Tembelang ke Watugaluh sesuai isi Prasasti Anjukladang bertahun 937M yang berbunyi “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh”.

Sengkalan berwujud rangkaian kata yang divisualisasikan dari gambar yang memiliki makna berupa bilangan-bilangan. Sedangkan bila dilihat, Watu Mbah-Mbeh yang ada di Watugaluh memilik relief yang bisa ditafsirkan sebagai angka tahun sehingga bisa disimpulkan sebagai Sengkalan Memet yang dikategorikan sebagai Surya Sengkala.

Surya sengkala merujuk pada tahun Caka yang dibuat berdasarkan kalender surya yang perhitungannya berdasarkan perputaran bumi terhadap matahari. Jadi angka tahun yang tertera di Watu Mbah-Mbeh ini berdasarkan tahun Caka dimana orang-orang di pada masa itu tak kalah keren dengan kebudayaan Romawi dan Persia yang masyhur karena sudah bisa membuat dan memahami penanggalan berdasarkan perputaran bumi terhadap matahari.

Dari surya sengkala ini kita dapat menyimpulkan bahwa orang zaman dahulu sudah bisa membuat penanggalan baik dari perhitungan revolusi bumi mengelilingi matahari dan perputaran bulan mengelilingi bumi. Miriplah dengan penanggalan dari sebuah kalender masehi yang menggunakan perhitungan matahari. Bayangkan, di masa itu dasar apa yang sudah mereka gunakan sehingga bisa membuat sistem kalender yang masih relevan dengan masa kini.


Sengkalan memet merupakan sengkalan yang berbentuk gambar ukiran, relief, patung dan bentuk-bentuk semacamnya yang nantinya punya makna angka tahun. Tiap kata dalam sengkalan mewakili sebuah bilangan dan jika rangkaian kata tersebut dibaca terbalik seperti membaca huruf arab dari kanan ke kiri maka didapatlah bilangan tahun yang dimaksud.

Sementara ini, dari yang terlihat ada dua relief yaitu orang dan daun. Sedangkan lekuk lainnya sepertinya bukan relief yang bisa dibaca. Menurut ilmu pembacaan relief, orang berada di kanan dengan angka 1 dan daun berarti angka 1 ada di kiri, sehingga bila dibaca maka akan menghasilkan angka 11.


Angka sebelas ini sama sekali tidak lengkap dan informasi dari kedua relief ini tampak sangat minim, sehingga tidak bisa memberikan kesimpulan yang menyeluruh mengenai apa yang mendasari pembuatan sengkalan ini, dan peristiwa apa yang terjadi kala surya sengkala ini dibuat.

Apalagi, sengkalan memet memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam penafsiran, terutama bila tidak memahami bahasa yang digunakan dalam lambang yang ditampilkan. Tidak adanya aturan baku untuk membaca rangkaian visual dalam citra visual, sehingga disebutlah memet yang artinya rumit nan membingungkan.


Beruntung, Jombang City Guide kemudian mendapat pencerahan dari kedatangan kawan yang menggeluti dunia iconografi. Adalah Asmara Gharudhara yang datang langsung dan 'membaca' Watu Mbah-Mbeh ini. Relief dibaca dari kanan ke kiri. Berarti Orang dibaca pertama dan benda mirip daun dibaca akhir. Dari pengamatannya, dia memiliki interpretasi sendiri.  

Jika diamati, orang dalam relief tampak bertubuh tambun dengan rambut keriting gondrong. Wajah orang yang ada dalam gambar tampak bukan seperti manusia. Ada kesan 'buto' atau raksasa. Sedangkan di tangannya terdapat relief yang susah dibaca, namun dicoba diperkirakan apa hubungannya dengan gambar daun di depannya.

Kemudian, gambar daun tampak seperti galaksi spiral yang berdiri diagonal. Tak ada tulang daun dan tangkai. Bagian bawahnya tampak bukan tangkai pohon karena lentik ujungnya mirip dengan bagian atasnya. Bisa jadi itu bukan daun, bisa jadi tanaman, atau pohon bahkan yang lain.

Setelah lama berpikir,A Smara Garudhara punya interpretasi dari sudut pandang pribadinya yaitu orang di situ bukan manusia, bukan raksasa, melainkan dewa. Sedangkan benda yang ada di tangannya belum jelas, namun daun di depannya bisa diartikan air. 


Jadi bila dibaca, maka relief itu berarti 'dewa menyiram air' yang bila diinterpretasikan merujuk pada angka 922 Caka yang ketika dikonversikan dalam tahun masehi menjadi 1022 M. Pada masa itu, diperkirakan olehnya adalah era Airlangga dan watu mbah-mbeh merupakan patok berupa lingga semu yang mungkin menandakan sesuatu.

Jika memang benar Watu Mbah-Mbeh merupakan sengkalan memet yang memuat informasi sebuah penanda waktu akibat peristiwa strategis, agaknya toponim Dusun Nanggalan sebagai lokasi dimana tugu batu ini berada juga bisa menjadi petunjuk bahwa patok batu ini merupakan penanda waktu yang mengindikasikan penanggalan sebuah kejadian yang memorable.

Karena itu sebenarnya untuk mengetahui misteri informasi yang tertera dalam Watu Mbah-Mbeh harusnya dilakukan penggalian di sekeliling patok ini untuk mengetahui bentuk yang ada di bawahnya. Bisa jadi Watu Mbah-Mbeh hanyalah sebuah lingga, atau juga mungkin di bawahnya terdapat bangunan yang lebih besar dengan relief yang lebih beragam sehingga lebih banyak informasi yang bisa didapat.


Dengan adanya informasi yang lebih lengkap, bisa didapat kesimpulan yang lebih akurat mengenai misteri informasi yang terkandung dari batu ini. Karena bila terjadi salah pembacaan, bisa berakibat fatal sehingga bisa menyebabkan kesesatan penafsiran yang nantinya akan menjadi acuan penanggalan dan bisa terjadi penyimpangan pemahaman bagi anak-cucu generasi selanjutnya.

Generasi Penerus Bangsa

Menariknya, sudah pernah dilakukan penggalian terhadap batu ini , namun selalu terjadi hal yang tidak diinginkan. Beberapa kali dilakukan penggalian dari tugu misterius ini, tak lama kemudian penduduk yang menggalinya tutup usia. Begitu seterusnya setiap dilakukan penggalian.


Pernah pula ada penduduk yang menggali batu ini guna memindahkannya ke tempat lain. Ternyata setelah digali lebih dalam, ukuran batu ini semakin besar hingga terlihat gambar wayang berwujud Arjuna. Kata penduduk setempat, batu ini menancap lebih dari 4 meter ke dalam tanah yang dalamnya berbentuk persegi. Jadi patok yang terlihat ini hanyalah puncak dari sebuah bangunan yang besar, tapi bagian utamanya masih terkubur di dalam tanah. Beberapa waktu setelah melakukan penggalian batu ini, akhirnya penduduk penggali batu tadi menjadi lumpuh lalu meninggal dunia.


Memang, probabilitas faktor kesehatan dan kelelahan masih sangat mungkin terjadi pada para penggali patok ini. Namun, dari beberapa peristiwa yang terjadi dengan pola yang sama, membuat penduduk enggan melakukan penggalian untuk mengungkap kisah patok batu ini.


Bila memang benar adanya mengenai ukuran batu yang semakin besar ke bawah, bisa jadi Watu Mbah-Mbeh ini merupakan ujung sebuah candi atau bangunan yang lebih besar mengingat mayoritas benda-benda purbakala memang banyak yang terkubur jauh di dalam tanah.


Bisa jadi, lokasi ini dulunya merupakan kuil kecil yang kerap digunakan untuk ritual sirkumabulasi yang ada dalam agama budha, kepercayaan yang dianut masyarakat Kerajaan Medang kamulan kala itu. Sirkumabulasi umumnya dilakukan dengan memutari obyek yang diyakini sebagai bangunan sakral dengan mengelilinginya searah jarum jam, sembari membacakan doa dan harapan kepada Sang Pencipta.


Prosesi sirkumabulasi mirip dengan Thawaf di Kakbah yang juga mengelilingi benda suci sebagai bagian dari ritual keagamaan. Bedanya, thawaf dilakukan dengan mengelilingi kakbah dengan alur berlawanan jarum jam. Jika memang benar Watu Mbah-Mbeh dulu merupakan bagian dari kuil, berarti Konsep Pradaksina dan Prasawiya agaknya juga bisa terkait dengan patok ini. Reliefnya yang menghadap ke barat mungkin salah satu pertanda sesuatu.


Dulunya, Watu Mbah-Mbeh hanya dibiarkan ada di tengah sawah di balik rimbunnya ladang para petani. Kini, sekeliling patok batu ini telah diberi paving dan pagar meski tanpa cungkup untung pelindung atas. Pemberian pagar dan paving ini juga berguna saat peringatan hari jadi desa yang biasanya dilakukan dengan menghelat acara di sekeliling patok batu ini, termasuk adanya kirab budaya dengan berkeliling kampung.


Alhamdulillah, patok batu ini sudah terdaftar sebagai bagian dari Benda Cagar budaya yang menjadi inventaris trowulan. Terbukti ada tulisan putih dengan kode tertentu yang menjadi ciri khas bahwa benda ini sudah ditandai sebagai bagian dari benda cagar budaya milik Trowulan.

Ditandai BPCB

Saat Jombang City Guide berkunjung ke Watu Mbah-Mbeh ini, terdapat banyak sisa sesajen yang mungkin diletakkan para peziarah sebelumnya. Ada beberapa sesajen berupa bunga-bunga, bahkan kepala ayam yang sudah dimasak berikut tusuk sate dan beberapa dupa. Sayangnya, sisa sesajen yang sudah mengering ini malah menjadi sumber sampah yang dikerubungi semut sehingga menyulitkan pengamatan.


Juru pelihara mungkin punya jadwal pembersihan sendiri, yang mungkin belum memasuki masanya. Namun sisa sesajen para peziarah ini jelas membuat WatuGaluh ini malah terlihat kumuh. Terdapat pula sisa bunga yang mengeringi di bagian atas batu yang memutih entah kenapa.


Dulunya, ada lampu yang bisa digunakan untuk penerangan di malam hari. Namun sepertinya kabelnya sudah putus dan lampunya pun sudah hilang. Berita baiknya, akses jalan menuju lokasi juga sudah cukup untuk dilalui mobil dari jalan aspal desa. Jaraknya pun tak jauh dari jalan utama desa sehingga akses masih cukup memadai dengan medan yang ringan.


Sebagai lokasi yang disebutkan sebagai salah satu tempat dimana Ibukota Kerajaan Mdang berada, tak banyak yang bisa ditemukan di Watugaluh. Hanya beberapa lumpang, sumur kuno dan beberapa artefak lain yang tersisa. Bisa jadi sudah hancur dijarah, atau mungkin masih banyak yang masih terkubur, atau bahkan sebarannya kini sudah bukan bagian dari  Watugaluh. Contohnya Candi Pundong yang berada di desa tetangga Watugaluh.


Sebuah misteri yang belum terpecahkan, padahal lokasi ini jelas disebutkan sebagai salah satu ibukota Kerajaan Mdang era Wangsa Isyana, setelah dipindahkan dari Tembelang yang diperkirakan terjadi pada 10 April 937 M. Tak diketahui mengapa ada pemindahan lokasi ibukota dari Tembelang ke Watugaluh, yang jelas kedua lokasi ada di jarak yang tak jauh satu sama lain dan memang masih berada di lingkup Kabupaten Jombang.


Beberapa artikel berupa kopasan yang entah darimana sumbernya jelas menyebutkan bahwa batu Mbah-Mbeh ini dulunya diduduki oleh Mpu Sindok sebelum pergi ke Nganjuk karena diserang oleh Anuspati. Sebuah detail yang janggal dimana ada frase yang menyebutkan adanya penyerangan oleh Anuspati.


Tidak jelas siapa Anuspati yang dimaksud, yang jelas namanya mirip dengan Anusapati, tokoh Tumapel yang menjadi raja kedua kerajaan Singhasari setelah Ken Arok. Tak dijelaskan darimana sumbernya, berikut apakah Anuspati yang dimaksud merupakan orang yang sama dengan Anusapati putra Tunggul Ametung yang menjadi penerus Ken Arok pendiri Tumapel.


Mpu Sindok sendiri merupakan pendiri Dinasti Isyana yang menjadi leluhur Raja Airlangga yang nantinya menurunkan raja-raja di Jawa Timur, mulai Kahuripan, Kediri, Sighasari hingga Majapahit. Bila Anusapati dan Anuspati memang merujuk orang yang sama, tentunya detail ini tidak dapat dipercaya karena Watugaluh berada jauh di masa awal abad 10, sedangkan Anusapati dari Kerajaan Singhasari hidup sekitar tahun 1227-1248. Selisih tiga abad tampaknya sudah menjadi bukti bahwa narasi pengejaran terhadap Mpu Sindok tampaknya kurang benar adanya.


Informasi mengenai patok batu Watu Mbah-Mbeh ini masih tersimpan rapi di balik menyembulnya ujung atas bagiannya. Hanya relief manusia dan daun yang masih menjadi petunjuk satu-satunya mengenai batu ini. Eskavasi lebih dalam jelas harus dilakukan. Sangat ditunggu bantuan dari arkeolog BPCB untuk menguak misteri mengenai batu ini.

Watu Mbah-Mbeh Watugaluh
Dusun Nanggalan, Desa Watugaluh
Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang
More Info : Pak Adib - 081


Btw, Apriliya Oktavianti  dari situsbudaya.id monggo kopas-kopas sepuas-puasnya ya. Nanti silakan pura-pura lupa cantumkan sumber seperti biasanya, 'kan ya??? Haseeek, hasek hasek haseeeekkk!!!