Tampilkan postingan dengan label Mistery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mistery. Tampilkan semua postingan

Di dalam area Makam Medelek, terdapat puing-puing batu bata kuno yang disinyalir sebagai peninggalan Kerajaan Medang Kamulan. Puing-puing itu dipercaya sebagai sisa bangunan kuno yang bentuknya sudah tak bisa diperkirakan lagi. Oleh penduduk, dan juru kunci makam, pecahan batu bata kuno itu disusun melingkar mirip sumur.

Batu bata kuno berwarna merah tampak sudah banyak yang pecah menjadi beberapa bagian. Terlihat ukurannya yang lebih besar dari batu-bata produksi zaman modern. Tampak beberapa ada yang memiliki ukiran seperti batu-bata khas peninggalan kerajaan Medang yang berhiaskan pahatan setengah lingkaran.

Warga setempat percaya bahwa di bawah susunan bata yang membentuk seperti sumur ini terdapat makam Ki Ageng Medelek, yang merupakan sesepuh desa yang dulunya membabat alas sekitar. Situs kuno ini, dikunjungi oleh para pencari wangsit untuk mencari pesugihan. Tampak di sekitar ‘sumur’ banyak sisa sesajen maupun bunga-bunga makam untuk ritual.


Entah apa yang menginspirasi penduduk menyusun puing-puing makam ini menjadi seperti sumur. Pengurus makam kini juga telah memberi tutup terpal di atas situs ‘sumur ‘ kuno ini. Yang jelas, dengan kondisinya ini, pecahan batu bata kuno jadi terlihat rapi dan terawat. Tempatnya berupa punden yang berada di dalam area khusus di makam Desa Medelek yang dianggap keramat, seakan membuatnya menjadi lebih terjaga.


Tak ada catatan apapun mengenai Situs Medelek ini, asal usulnya mungkin hanya bisa diperkirakan dari lokasinya yang berada di Dusun Medelek, Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Medelek, kadang disebut atau dituliskan pula sebagai Medeleg.

Kawasan Tembelang memang dipercaya sebagai Ibukota Kerajaan Mataram Kuno era Wangsa Isyana yang didirikan  mpu Sindok sebagai kelanjutan dari Kerajaan Mataram yang sama dinasti Wangsa Syailendra di Jawa Tengah. Tak bisa dipungkiri, banyak peninggalan kerajaan kuno yang tersebar di Tembelang dan sekitarnya.

Paling dekat dari Medelek, ada Candi Tamping Mojo di Tampingan, Tampingmojo, Tembelang yang bersebelahan dengan Megaluh yang mungkin masih belum diketahui sejarahnya. Asal usulnya sendiri masih misteri, meski yoni naga raja kecil yang ditemukan di sampingnya sepertinya sebuah pertanda bahwa Candi Tamping Mojo merupakan sebuah check point di masanya.

Ada pula Candi Dempok yang dipercaya sebagai lokasi pertapaan Damarwulan. Sedangkan di Gilang, terdapat Watu Gilang yang dipercaya sebagai bakalan prasasti. Petilasan Damarwulan di Sudimoro juga punya kisah yang berkaitan dengan Damarwulan. Selain itu terdapat Candi Mireng yang jelas-jelas tertera asal-usulnya dalam Kitab Negarakertagama sebagai candi pendermaan Lembu Tal, ayahanda Raden Wijaya pendiri Majapahit.

Berada di dalam makam desa, membuat Situs Medelek ini dikeramatkan warga sekitar. Berbagai kisah menarik berbau horor beredar di antara penduduk desa dan siapapun yang berkunjung ke sana biasanya akan merasakan hawa mistis. Area makam ini bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh makam paling angker di Indonesia oleh berbagai situs klenik.


Diceritakan di berbagai situs bahwa terdapat banyak kisah mistis tentang makam ini. Termasuk kisah seorang tukang becak yang kebetulan ingin buang air kecil. Karena tak ada tempat buang air, akhirnya terpaksa Pak Becak itu pun buang air di gerbang makam. Anehnya, malam hari  sekujur tubuh badan tukang becak itu terasa panas, gatal-gatal seperti dikerubungi semut merah, terutama di bagian kemaluannya bahkan seperti terbakar.

Ada kisah lain tentang makam ini, yang katanya sering diadakan hajatan di area makam. Para pengisi acara seperti dipadati ribuan penonton yang menikmati irama panggung gembira. Tapi tidak diketahui siapa yang menghelat acara.

Pernah ada acara desa yang mengundang bantengan dan sejenisnya yang memang salah satu atraksinya mengandung  unsur kesurupan. Pemain jepaplek itu pun berlari masuk ke makam dan menggila di dalamnya. Entah apa yang merasukinya.

Versi lain didapat dari cerita warga setempat yang berkawan dengan penyedia jasa sound system hajatan dari Desa Banjardowo. Kebetulan, Si Banjardowo itu mendapat order sewa hajatan di Medelek. Seperti biasa selayaknya penyedia jasa sound system hajatan melakukan tugasnya dengan memasang pengeras suara di area dekat lokasi acara. Acara berjalan normal seperti hajatan pada umumnya, dengan para tamu yang berdatangan ke acara yang biasanya dihelat beberapa malam. Petugas tersebut menjaga dan menjalankan sound sistemnya siang dan malam hingga acara hajatan selesai.

Jasa pun dibayar oleh penghelat acara dengan uang kontan sesuai kesepakatan. Entah bagaimana ceritanya, yang jelas setelah petugas sound system selesai membereskan peralatannya dan siap pergi, tak sengaja disapa oleh warga setempat yang kebetulan melintas. Warga tersebut bertanya, darimanakah petugas-petugas itu, yang sepertinya baru membereskan perelengkapan hajatan.

Merasa tak ada yang aneh, petugas sound system itu menjawab bahwa baru saja membereskan peralatannya dari sisa hajatan kemarin di lokasi. Warga tersebut heran, mengapa petugas tersebut tampak membereskan acara di depan makam, dimana lokasinya cenderung sepi dan tak mungkin dilakukan acara hajatan di kuburan. Saat menoleh ke lokasi hajatan, baru tersadar bahwa lokasi yang baru saja mereka isi acara hajatannya adalah area makam.

Beberapa ajang uji nyali maupun siaran klenik pernah melakukan syuting di sini. Sempat di salah satu scene saat berdoa di samping lingkaran sumur, ada angin nggebes yang kemudian diikuti meledaknya dupa bagai petasan.

Dari cerita warga yang merupakan tetangga makam, biasanya penduduk setempat memang tidak terpengaruh dengan keangkeran makam. Namun, warga pendatang atau tamulah yang biasanya merasakan efek khusus. Pendatang dilarang berpikiran negatif atau apa yang buruk dalam benaknya biasanya akan terjadi. Misalnya saat suasana hatinya buruk, maka hawa akan terasa begitu tidak nyaman.

Makam Medelek berada tak jauh dari jalan tol. Saat pembangunannya, jembatan dalan tol yang biasanya memiliki terowongan untuk warga setempat itu bahkan harus didesain ulang supaya tidak menggusur lahan makam. Akhirnya, pembangunan jalan tol harus dibuat agak sedikit belok supaya tidak memakan area makam.

Punden Medelek ini kabarnya tak boleh dikunjungi orang luar. Biasanya bila ada orang luar yang berkunjung, pasti warga setempat curiga, karena khawatir melakukan sesuatu yang dilarang. Miko Ajah, seorang petualang sejarah pernah mampir ke situs ini dan melakukan pemotretan situs di tengah tatapan mata warga yang penuh kecurigaan. Bersyukur, tak terjadi apapun dalam kunjungannya.

Karena banyaknya cerita  mistis yang terjadi mengenai makam Medelek, akhirnya setiap orang luar yang mampir harus izin dahulu ke Kepala Dusun setempat. Memang, ada sebuah spanduk peringatan di pagar situs yang menyatakan untuk keamanan, para tamu harus lapor ke Kepala Dusun. Rumah Pak Polo tak jauh dari area makam, jadi permintaan izin pasti jadi lebih mudah.


Foto-foto berikut didapat dari Google Plus Miko Ajah dan Kabare Wong Jombang yang pernah mampir juga ke situs ini. Informasi mengenai situs Medelek banyak terdapat di akun Google Plus Miko Ajah. Sayangnya, Google Plus kini sudah kukut. Hanya situs budaya.id yang sempat mengkopas mentah artikel ini. Semoga Apriliya Oktaviantidari situs budaya.id tak lagi mengkopas ulang artikel ini sambil lupa mencantumkan sumbernya ya.

Terlepas dari angkernya makam ini, kuburan Medelek tetaplah area pesaeran pada umumnya yang memakamkan warga setempat. Situs kuno di dalam makam jelas merupakan bagian dari sejarah yang ada di Medelek, yang kemungkinan besar sangat berkaitan dengan Kerajaan Medang. Bisa jadi juga situs ini adalah bagian dari cikal bakal Tamwlang, kota kuno yang menjadi asal usul Jombang kini.

Sebagai generasi muda kota santri kita harus menjaga dan melestarikan benda bersejarah, terutama yang ada di Jombang. Sejarah dan asal usul situs di Makam Medelek, memang masih misteri. Mungkn perlu waktu untuk menguaknya.

Situs Punden Medelek
Makam Desa Medeleg
Dusun Medelek/Medeleg, Desa Tamping Mojo
Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang
Untuk keamanan, tamu harap lapor Kepala Dusun



Namanya Pegunungan Anjasmoro, yang merupakan salah satu gugusan pegunungan paling kompleks se-Jawa Timur. Sebagai bagian dari kluster pegunungan, tentunya Anjasmoro punya banyak puncak dan gunung-gunung yang masuk dalam gugusannya. Jombang punya bagian Gunung Gede dalam wilayahnya, masuk wilayah dataran tinggi yang bernama Wonosalam dengan puncaknya yang berjuluk Cemorosewu.

Sayangnya, meski menjadi salah satu ‘pemilik’ Anjasmoro, tak banyak yang tahu pula bahwa wilayah Jombang juga punya kawasan pegunungan. Kunjungan Alfred Russel Wallace yang menjadi satu-satunya catatan ilmiah mengenai kawasan ini. Dalam laporan kunjungannya, dia menuliskan dataran tinggi ini sebagai bagian dari ‘Wonosalem yang ada di lereng Gunung Arjuno’.



Catatan Sang Ilmuwan ini seakan malah menenggelamkan nama Anjasmoro. Bisa jadi karena letak kedua gunung yang bertetangga satu sama lain. Mungkin juga akibat sama-sama berawalan huruf ‘a’ dan berunsur getaran ‘r’ di tengahnya sehingga makin mengaburkan nama asli pegunungan kebanggaan Kota Santri ini. Nama Anjasmoro hanya sedikit terkatrol karena melekat di sesosok selebritis yang kini mendalami dunia meditasi dalam kesehariannya.

Bila ditelaah lebih lanjut, nama Anjasmoro terdengar seperti nama yang maskulin. Anjasmoro berasal dari gabungan dua kata yaitu anjas dan asmara yang berasal dari Bahasa Sansekerta yang kerap dijadikan naskah kitab kuno. Bila diartikan per kata, anjas artinya kubu pertahanan atau benteng, sedangkan asmara berarti cinta. Bila digabung, Anjasmara artinya kubu pertahanan cinta atau kubu pertahanan suka dan duka. Bisa dikatakan pula Anjasmara berarti pintar dan pandai bercinta menurut kamus bahasa sansekerta.


Di tengah kurang populernya Anjasmoro di kalangan para pecinta nanjak sekalian, masih menjadi misteri siapa sebenarnya sosok yang namanya diabadikan menjadi nama gugusan pegunungan yang membentang dari Malang, Mojokerto, Jombang hingga Kediri ini. Tak ada perkamen kuno apalagi catatan ilmiah sama sekali tentang sosok Anjasmoro.

Hanya ada kisah legenda romansa dua sejoli yang menjadi dasar kisah Air Terjun Tretes Pengajaran antara Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Ada lagi cerita fiksi film kolosal dalam Tutur Tinular dimana Arya Kamandanu melakukan latihan tarung di Gunung Anjasmoro dan Gunung Arjuno, beserta pedang Naga Puspa-nya. Namun nihil, tak ada penjelasan sama sekali siapa sosok yang namanya dijadikan nama gunung Anjasmoro.

Ada yang menyebutkan bahwa putri pantai selatan yang dinikahi Joko Mujung adalah Putri Anjasmoro. Sedangkan yang lain bilang, versi asli fiksi Tutur Tinular sebenarnya berakhir dengan Arya Kamandanu bersama Putri Anjasmoro. Namun fiksi tetaplah fiktif, yang tak bisa dibuktikan dalam kata ilmiah.


Beruntung, setelah lama melakukan penelusuran, dari seorang pemuda Desa Jarak Wonosalam, Jombang City Guide berhasil mendapat petunjuk kecil tentang sosok Anjasmoro. Detail kecil didapat dari dalam tembang macapat berjudul Asmaradana yang merupakan sastra jawa klasik mengenai kisah perjuangan seorang ksatria Majapahit.

Sosok Anjasmoro, disebutkan dalam sepenggal cerita tentang perjuangan Ksatria Damarwulan kebanggaan Mojopahit. Meski bukan dari Serat Damarwulan dan kisah Sang Ksatria sendiri masih simpang siur, setidaknya ada setitik unsur kuno dalam tembang klasik yang termaktub dalam budaya Jawa. Dari tembang ini, bisa menjadi petunjuk kecil :

Dalam Bahasa Jawa
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
Asmaradana

Anjasmara ari mami
Mas mirah kulaka warta
Dasihmu lan wurung layon
Aneng kutha Prabalingga
Prang tandhing Wurungbhisma
Karia mukti wong ayu
Pun kakang pamit palastra
Kasmaran

Wahai Anjasmara Adindaku
Permata hati carilah berita
Kekasihmu tak urung jadi mayat
Berada di kota Probolinggo
Bertempur melawan Wurubhisma
Tinggallah berbahagia wahai kekasihku yang cantik
Kakanda memohon diri untuk mati

Rupanya, penggalan tembang macapat ini adalah bagian dari kisah Ksatria Damarwulan yang akan berangkat berperang melawan Raja Blambangan. Sebelum berangkat, Sang Ksatria andalan Wilwatikta ini berpamitan dengan istrinya, Dewi Anjasmoro.

Keduanya berada dalam lingkaran bangsawan kerajaan, yang sering berinteraksi satu sama lain karena kegiatan ayahanda mereka yang tak jauh dari urusan istana. Damarwulan merupakan putra dari Patih Maudoro sedangkan Anjasmoro merupakan putri dari Patih Lohgender. Singkat cerita, Anjasmoro dan Damarwulan yang kasmaran merupakan pasutri yang baru saja menikah. Keduanya masih berada di masa bulan madu dan masih hanyut dimabuk cinta dalam biduk rumah tangga yang baru saja mereka bangun.


Sebagai pasangan yang baru saja menikah, tentunya Sang Istri selalu ingin berada dekat dengan suaminya. Sang Suami pun didapuk membela negara untuk menumpas pemberontakan kerajaan bawahan. Anjasmoro tak rela melepas suaminya pergi berperang, meski itu merupakan tugas Negara. Dia bahkan ingin mengikuti kemanapun suaminya pergi, meski dalam medan perang yang penuh mara bahaya sekalipun.

Suatu hari, Damarwulan mengajak istri tercintanya kemanapun Anjasmoro inginkan. Seharian mengajak istrinya bersenang-senang kemudian Anjasmoro pun lelah dan tertidur. Kesempatan ini pun digunakan Damarwulan untuk pergi berperang, karena jelas saat istrinya terbangun pasti dia tak akan tega meninggalkannya. Sedangkan, istrinya pasti tak akan mengizinkan suaminya pergi. Kemudian Damarwulan pun menuliskan surat untuk Anjasmoro yang berisi tembang Asmaradana penuh ungkapan cinta yang ditinggalkan di samping istrinya yang lelap tertidur.


Damarwulan pun berangkat berperang ke Probolinggo melawan Raja Blambangan yang katanya dipimpin oleh Minakjinggo. Blambangan sendiri, merupakan kerajaan bawahan Majapahit yang membelot karena Minakjinggo menyatakan perang karena janji lamarannya diingkari oleh Ratu Kencono Wungu. Blambangan adalah daerah Banyuwangi, sedangkan Probolinggo adalah perbatasan antara wilayah pusat Majapahit dan Blambangan.

Singkat cerita, akhirnya Damarwulan berhasil mengalahkan Minakjinggo dan Ratu Kencono Wungu malah menjadi istri baru Damarwulan. Karena Kencono Wungu seorang ratu, sehingga posisi Anjasmoro sebagai istri pertama pun tergeser sehingga Sang Ratu pun menjadi permaisuri. Cukup tidak adil ya?

Meski demikian, Damarwulan sejatinya tak terlalu tertarik dengan Kenconowungu dan tetap menempatkan Anjasmoro di tempat tertinggi di hatinya. Di sinilah peran Anjasmoro yang setia pada suaminya, menanti kekasihnya pulang membawa kabar gembira. Seorang wanita yang tangguh, dimana pengabdiannya pada orang terkasihnya menjadikan suaminya punya posisi yang tinggi, meski dirinya akhirnya harus merelakan berbagi suami, aaaaarrrgh!!!

Lupakan tentang Kenconowungu. Kisah tembang Asmaradana jelas hanya tentang Anjasmoro dan Damarwulan yang sedang kasmaran namun harus berpisah. Entah darimana kedua pasangan ini berasal, yang jelas nama dua sejoli di zaman modern ini kedengarannya agak terbalik. Damarwulan terdengar seperti nama perempuan, sedangkan Anjasmoro malah kerap dipakai sebagai nama laki-laki.


Tembang Asmaradana memiliki arti cinta yang berapi-api, diambil dari kata asmara yang berarti cinta dan (dahana) yang berarti api. Jadi Asmarandana bias diartikan sebagai api cinta yang berkobar-kobar. Nama Anjasmoro juga punya salah satu unsur yang kebetulan mirip dengan ‘judul’ tembang macapat ini.

Tembang Asmaradana ditujukan untuk orang yang sedang dimabuk asmara. Sebagaimana kehidupan, ia digerakkan oleh asmara, cinta, welas asih. Banyak yang percaya, dengan kekuatan cinta apapun bisa dilakukan. Bukan hanya cinta kepada sesama manusia, namun juga cinta pada alam semesta dan cinta terhadap Tuhan. Macapat Asmaradana juga sering disebut sebagai Asmarandana, adalah lagu kasmaran yang sering digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta, baik untuk lagu sedih karena patah hati, kecewa cintanya ditolak, pasangan bahagia, maupun sebuah pengharapan pada pasangan.

Menariknya, Goenawan Mohammad, seorang sastrawan modern mengembangkan kisah Asmaradana ini dengan menuangkannya dalam kisah versinya sendiri. Meski fiktif, namun tentap berdasarkan alur cerita dalam tembang Asmaradana :
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.
Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jau,
Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.


Dari ulasan masdewee, terdapat review yang menarik :
Tergambar betapa syahdu dan haru suasana ketika itu yang terwakili dalam tiap bait puisi tersebut. Sebenarnya banyak yang ingin mereka ungkapkan. Entah tentang cinta, perpisahan, dan rasa sakit yang menyayat, “Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.”
Hingga akhirnya, kepergian Damarwulan itu disikapi dengan dingin kebekuan oleh sang kekasih, diam. Karena, “ia tahu perempuan itu tak akan menangis.” Tak ada gunanya menangis bagi sang kekasih karena itu takkan mengubah takdir, “bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,” yang berarti bahwa berita kekalahan dan kematian akan datang (bagi orang Jawa [Islam], utara adalah lambang kematian. Contoh: wong mati mujur ngalor [orang meninggal dikubur membujur ke utara]) dia harus menerimanya dengan legawa.
Namun, apabila berita kemenangan yang datang maka dia harus rela melepas sang kekasih naik pangkat lalu pindah tugas di dalam kerajaan Majapahit serta dinikahkan dengan seorang gadis yang lebih terhormat. Hingga akhirnya, “ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.” Bak buah simalakama.
Dan akhirnya Damarwulan pun hanya bisa berpesan:
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.
Sebenarnya pesan yang tersirat dalam puisi tersebut tidak hanya renungan tentang hidup, mati, dan cinta semata. Selain itu tersirat sebuah amanat kepada kaum lelaki (khususnya) agar jangan terlalu terobsesi dengan pangkat, jabatan, dan gelimang dunia sehingga melupakan keluarga. Karena pada umumnya, semakin tinggi jabatan seseorang maka intensitasnya untuk bersama dengan keluarga akan semakin sedikit. Dan inilah kebanyakan pemicu keretakan rumah tangga.

Sedangkan amanat untuk kaum perempuan, bahwa jadilah pribadi yang tangguh. Dukungan dari istri memang sudah banyak terbukti menjadikan suami lebih kuat dan berhasil dalam pekerjaannya. Pengabdian untuk suami merupakan segalanya sehingga keutuhan rumah tangga terjaga. Dari peran istri, rumah akan selalu menjadi tempat suami untuk pulang.


Romansa dalam kisah Anjasmoro dan Damarwulan sepertinya cukup mengalahkan cerita cinta Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo. Terbukti tembang macapat pun berhasil dikembangkan oleh para sastrawan dan seniman yang menuangkan kreativitasnya dalam berbagai bentuk karya seni. Selain puisi di atas, juga terdapat ketoprak, bahkan tarian yang terinspirasi dari sosok Dewi Anjasmoro.

Uniknya, Tari Anjasmoro atau Anjasmara’s Dance, malah kerap dipentaskan sebagai tarian solo di Bumi Pajajaran dengan penari yang umumnya berpenampilan layaknya kostum wayang kulit. Raden Tjetje Soemantri merupakan koreografer tarian Dewi Anjasmoro ini, yang memang terinspirasi dari kisah cinta antara Anjasmoro dan Damarwulan. Bagian barat Jawa ini sudah terkenal sebagai bagian dari Tanah Sunda yang jelas-jelas merupakan musuh abadi Majapahit. Dendam peristiwa di lapangan Bubat pun, masih menjadi memori gelap yang menimbulkan pantangan yang diikuti masyarakat Pasundan hingga kini untuk menghindari pernikahan dengan orang Jawa.

Tari Dewi Anjasmara menggambarkan seorang wanita yang mempersiapkan suami tercintanya untuk berangkat berperang membela negara. Tarian ini melambangkan kecantikan dan gemulainya perempuan yang pribadinya makin berkembang karena pengabdiannya terhadap orang yang dikasihi dan dicintainya. Mungkin bahasa kininya bisa dikatakan inner beauty-nya makin terpancar karena kedewasaan mental dan kematangan pola pikirnya meningkat. Jadi ketangguhan seorang wanita tersebut, menjadi penyokong semangat pasangannya.


Sedangkan tahun 2018 Sang Dewi Anjasmoro muncul kembali dalam sebuah tarian lain yang juga terinspirasi dari kisah cinta Damarwulan dan belahan jiwanya. Beksan klasik ciptaan KRT. Sunaryadi Maharsiswono, SST., MSn mengambil cerita dari ketoprak ‘Damarwulan Ngenger’ dari Kepatihan Wilwatikta. Sejarah beksan dibuat karena penciptanya sering memerankan tokoh Damarwulan di tahun 1970-an. Meski berupa karya baru, beksan ini dibuat dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta.


Beksan Damarwulan ini diperankan sepasang penari yang berpakaian ala wayang panji  lengkap dengan tekesnya, yang menggambarkan sosok Anjasmoro dan Damarwulan. Ragam gerak dibedakan menjadi dua dimana impur alus merupakan milik Damarwulan dan gerak Tari Putri Brayak dimainkan oleh Anjasmoro. Kesemuanya membuat sebuah gambaran percintaan seperti berpegangan tangan dan saling berpandangan mesra layaknya pengantin baru yang sedang kasmaran.

Tarian beksan Damarwulan ini menggambarkan bahwa saling setia dengan pasangan merupakan impian semua manusia. Saling mencintai apa adanya pun juga menjadi modal utama untuk mendapatkan keluarga yang harmonis yang berjalan hingga ajal memisahkan.


Sosok Anjasmoro pun masih menjadi misteri. Sementara ini, bukti autentik dari sosok Sang Dewi Anjasmoro sayangnya ditemukan di Trowulan. Di lokasi yang menyimpan begitu banyak peninggalan sejarah Majapahit yang berada tak jauh dari Pegunungan Anjasmoro. Dapat dilihat jejak Dewi Anjasmoro di Makam Sentonorejo, tepat di belakang Kompleks Makam Troloyo.


Memang, Pengungungan Anjasmoro membentang dari Malang, Mojokerto, Jombang, hingga Kediri. Tentunya sejarah dan kisah-kisah tentang Sang Anjasmoro sangat mungkin tersebar di salah satu sudutnya. Jadi tak heran bila jejaknya bisa ditemukan di sebuah kecamatan yang dulunya merupakan bagian dari Afdeeling Jombang, meski sebenarnya Kota Santri sendiri merupakan hasil ‘disintegrasi’ dengan Mojokerto.


Di makam Sentonorejo, terdapat bangunan khusus yang merupakan makam istri-istri Damarwulan. Dalam makam yang hampir semua pernik-perniknya dibuat berwarna ungu tersebut, terdapat sebuah makam wanita yang bergelar Raden Ayu Anjasmoro yang berada tepat di samping makam Ratu Kencono Wungu.


Kedua wanita ini dimakamkan bersebelahan, dengan bangunan khusus yang terpisah dengan yang lain. Bisa disimpulkan, keduanya jelas bukan orang biasa dalam kerajaan. Sang Ratu Kencono Wungu banyak dikisahkan sebagai Ratu Majapahit, dan makam Dewi Anjasmoro berada di sampingnya. Tampak berarti posisi keduanya sejajar dan punya posisi yang dihormati kala itu.

Ilustrasi Dewi Anjsmoro dan Ratu Kencono Wungu

Menariknya, bukti autentik tersebut berupa makam, yang berada di balik kemegahan kompleks makam Islam Troloyo yang begitu terkenal sebagai cikal bakal Islam menguasai Majapahit. Bila dipikirkan lagi dengan logika, Sang Wilwatikta sendiri merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha yang jelas menganut tradisi kremasi dan larung dalam pemakaman.


Sehingga tak akan mungkin ditemukan makam tokoh Wilwatikta, bahkan Raja Majapahit sekalipun. Bila ada pun, kompleks ‘pemakaman raja’ layaknya Lembah Para Raja di Mesir pasti berbentuk candi perabuan dan telah ditemukan oleh Laskar Mdang, yang dibangun untuk pendermaan Sang Prabu.


Jadi, makam yang dipercaya sebagai istri-istri Damarwulan itu jelas menimbulkan sejuta tanda tanya. Agama apakah yang telah mereka anut sehingga dimakamkan buka dikremasi, dan mengapa pemakamannya berada di kompleks Makam Troloyo. Benarkah itu nyata merupakan makam istri-istri Damarwulan, lalu bagaimana dengan nasib Sang Ksatria sendiri yang makam perabuannya belum pernah ditemukan? Atau mungkin ada sejarah lain yang mungkin luput dari catatan akibat ideologi istanasentris di era itu??? Wallahualam.



Menurut Pak Sanusi, Sang Juru Kunci yang juga memiliki toko mebel tepat di samping Makam Sentonorejo tempat pesarean Sang Dewi Anjasmoro, dua istri Damarwulan itu sudah masuk islam. Terbukti mereka dimakamkan dalam tata cara islam dan pesareannya berada di kuburan islam Sentonorejo Trowulan.


Makam itu sendiri sudah diperbagus dalam sebuah bangunan tersendiri dengan aneka hiasan berwarna ungu. Tak kurang pula orang-orang dari berbagai penjuru yang menziarahi lokasi ini, termasuk beberapa orang dari Malaysia yang tempo hari sempat berkunjung.


Dari penelusuran ini Jombang City Guide masih belum mendapat tambahan perbendaharaan bukti ilmiah. Yang jelas, versi lain jelas punya kisahnya masing-masing. Setidaknya dari penelusuran ini, didapat satu petunjuk tentang siapa sebenarnya sosok Anjasmoro. Namun belum diketahui, mengapa Sang Dewi Anjasmoro ini namanya diabadikan menjadi sebuah nama gunung. Entah apa hubungannya, dan bagaimana kisah awalnya.


Bisa jadi sosok Anjasmoro begitu memorable di kalangan masyarakat setempat sehingga namanya diabadikan menjadi salah satu gunung dengan medan paling kompleks di Jawa. Btw, adakah yang punya detail tambahan????


Dunia sudah terlalu terbuai kisah cinta Romeo dan Juliet. Namun banyak yang lupa bahwa sebelum mengenal Juliet, Romeo sudah punya kisah dengan Rosaline. Kisah heroik Damarwulan yang memenangkan perang dan bersanding dengan Ratu Kencono Wungu juga sangat populer. Padahal, di baliknya ada Dewi Anjasmoro yang lebih dulu menjadi cinta sejati Sang Ksatria Damarwulan.



Btw, foto dari berbagai sumber.
Ilustrasi Anjasmoro diambil dari penari beksan Damarwulan dan Mbak Senk Lotta saat memerankan opera wayang orang. Keduanya cantiknya gak ketulungan,,,,



Makam Dewi Anjasmoro
Kompleks Makam Sentonorejo
Belakang Kompleks Makam Troloyo
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur
- Bekas bagian Afdeeling Jombang -