Tampilkan postingan dengan label Fruit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fruit. Tampilkan semua postingan


Festival Durian Wonosalam berjuluk Kendurenan sudah di depan mata. Hingar bingar pemberitaan tentang pesta durian ini tampaknya agak menenggelamkan  beberapa acara lain yang juga menjadi rangkaian perhelatan terbesar Wonosalam ini. Beberapa acara lain juga dihelat, termasuk Kontes Durian Wonosalam.

Sebenarnya, setiap ada perhelatan Kendurenan pastilah ada lomba durian berkualitas yang mengiringinya. Kontes Durian Wonosalam kali ini menggunakan kata unggulan sebagai bukti kepercayaan diri kawasan lereng Anjasmoro regional Gunung Gede ini sebagai penghasil durian berkualitas tinggi.


Juri dari Yayasan Durian Nusantara didatangkan, termasuk para pakar biologi dari universitas almamater Jombang City Guide. Ada tiga juri dalam acara ini, namun kehadiran Prof. Reza Tirtawinata yang membidani Taman Buah Mekarsari sekaligus peneliti dan pakar durian nusantara tampaknya menjadi stempel paling ampuh untuk keabsahan kontes durian bergengsi.

Yang jelas, kriteria dasar adalah duriannya harus jatuh sendiri. Durian yang dipetik maupun dipanen paksa, tak akan masuk dalam kriteria. Sebagai manusia awam yang senang menonton kontes Si Raja Buah ini, pastilah dalam benak pemenang lomba adalah yang manis, tebal, dan buahnya besar. Pemikiran itu tentunya benar adanya, namun ada deskripsi lanjutan yang menjelaskan detail durian unggulan yang biasanya menjadi juara dalam kontes.

Banyak yang terpesona dengan durian yang juara, padahal untuk masuk dalam kontesnya saja perlu percaya diri dengan kriteria-kriteria tertentu yang harus dimiliki durian unggulan sebagai calon juara. Tentunya, para peserta kontes dan kita semua juga ingin mengetahui deskripsi durian yang bagaimanakah yang layak dinobatkan sebagai juara. Sebenarnya ada 14 kriteria, namun secara global dijelaskan sebagai berikut :
  • Bentuk Buah bulat sempurna. Durian yang bulat sempurna memungkinkan lima juringnya terisi penuh. Bila lekuk duriannya tak beraturan, dapat dipastikan ada space untuk sebuah pongge tak akan terisi. Selain itu, bila lekuknya pating-pecotot, dapat disimpulkan bahwa pembeli durian itu seakan membeli lebih banyak bagian kulitnya dibandingkan dagingnya.
  • Lima juringnya terisi penuh. Memang ada durian yang lima juringnya terisi, tapi tidak penuh. Yang tidak penuh itu biasanya durian yang lekuknya tak beraturan. Yang juara jelas juringnya penuh dengan deretan rapi nan padat. Semakin banyak pongge dalam satu juring, maka dapat dipastikan dagingnya sedikit. Sebaliknya, makin sedikit pongge dalam satu juring, daging duriannya akan semakin banyak.
  • Edible Portion tinggi. Edible portion adalah berapa banyak daging yang bisa dimakan dalam satu buah durian. Caranya, dengan ditimbang kemudian semua ponggenya dikupas. Keduanya lalu ditimbang dan dibandingkan antara daging dan bijinya. Durian juara adalah yang akin tinggi edible portionnya, yang biasanya dimiliki oleh Si raja buah dengan biji kepeng karena porsi dagingnya jelas lebih besar dari volume ponggenya.
  • Rasa harus manis, gurih dan berlemak dengan sedikit pahit
  • Daging tebal. Siapapun tau bahwa durian berdaging tebal adalah juaranya. Cara mengukurnya yaitu dengan pengukuran menggunakan tusuk gigi. Daging durian ditusuk dengan tusuk gigi, kemudian dilihat ketebalannya.
  • Warna kuning dan oranye diutamakan. Durian dengan warna mencolok jelas menambah porsi dalam penilaiannya. Makin mencolok warnanya, makin tinggi nilainya. Tentunya kategori Si Jingga Durian Simas tak masuk nominasi. Semakin tajam warnanya, pastinya akan makin menarik perhatian.
  • Pulen dengan kadar airnya sedikit
  • Durian dengan kadar air sedikit memungkinkan struktur dagingnya pulen dan tidak mbletrek.
  • Licin di luar, lembut di dalam / Tidak Mbletrek
  • Durian yang masuk unggulan adalah durian yang licin dalam penampilannya, namun pulen creamy saat di lidah.
  • Aromanya tak terlalu memabukkan kemana-mana, namun berbau kuat saat dilahap
  • Durian yang beraroma tajam memang memberikan kesan rasa yang mantap. Namun yang dijadikan juara adalah Si Raja Buah yang baunya tak terlalu semerbak kemana-mana, namun beraroma kuat saat disantap. Aroma terlalu kuat itu pertanda kadar alkoholnya terlalu tinggi.
  • Penilaian lanjutan dari pengamatan pohon induk
  • Penilaian terakhir yaitu dengan kunjungan langsung ke pohon indukannya. Dewan juri akan menilai langsung pohon yang menghasilkan durian yang dilombakan dengan mengamati batang pohonnya, usianya, maupun daunnya.

Durian yang permukaannya mulai keriput memang lebih nikmat disantap. Namun beberapa orang mengeluh agak susah buang air setelah menyantap durian yang sangat lembut. Agaknya durian yang terasa berserat lebih dipilih.

Semua foto durian diambil dari internet.
Sorry lupa alamatnya,

Saat peserta menyerahkan durian yang masih kenyal permukaan dagingnya, biasanya dewan juri cukup maklum. Memang, durian paling enak disantap setelah melewati masa tiga hari jatuh dari pohon. Pemakluman ini memang wajar dilakukan karena durian nikmat tak akan mengenal waktu jatuhnya. Mau besok atau tadi kontesnya, saatnya jatuh ya jatuh aja bro. Sehingga peserta seakan bejan-bejan harap-harap cemas mengharapkan durian unggulan jatuh di saat yang tepat.

Durian ternyata juga bisa ditingkatkan kualitasnya dengan perawatan dan pemupukan. Biasanya dengan makin dirawat dan dipupuk, durian akan menghasilkan buah yang berkualitas. Salah satu contoh keberhasilan dalam upaya perawatan adalah meningkatnya kualitas durian. Peningkatan itu bisa dilihat dengan cara membandingkan hasil durian tahun ini dengan tahun lalu. Bisa jadi durian yang telah dipupuk dagingnya jadi lebih tebal, dan yang dirawat dengan baik akan menghasilkan warna yang lebih menarik maupun keajaiban berupa biji yang makin kepeng.

Dari Sang Profesor, didapat tips mengetahui warna durian tanpa membelahnya yaitu dengan pengamatan terhadap daun di pohonnya. Pangkal daun biasanya berwarna hijau karena penuh dengan klorofil. Yang diamati adalah bagian belakang daun di ujungnya. Daging durian yang pucat ujungnya akan berwarna keperakan, sedangkan yang berwarna kuning ujungnya berwarna emas.

Dari sebuah tips Sang Pakar di atas, sebagai manusia awam yang masih sangat dangkal dengan durian, Jombang City Guide jadi teringat durian simas yang bahkan pinggir daunnya agak kecoklatan dimana nantinya menghasilkan daging durian berwarna oranye yang mempesona. Bunga durian Simas bahkan berwarna kuning berkelir cenderung mencolok dibandingkan durian pada umumnya yang putih. Meski kategori Durian Simas memang agak nyleneh dari kontes durian, tips dari Sang Juri tampaknya masuk akal.

Ada pula tips lain setelah menyantap durian dari Sang Pakar, yaitu untuk menghilangkan aroma durian hendaknya mengisi juring kulitnya yang telah kosong itu dengan air, kemudian usapkan jari-jari yang telah digunakan untuk makan durian ke permukaan putihnya. Basahi jemari dengan air yang ada di juring itu sambil menggosok-gosokkannya hingga ada sedikit lapisan lilinnya yang lepas. Lalu air yang telah digunakan untuk menggosok-gosokkan permukaan juring berlilin tadi diminum.

Sedangkan untuk penawar kandungan durian yang cukup ‘memabukkan’ itu bisa dilakukan dengan menyantap manggis. Di Thailand, Si Ratu Buah ini dijadikan semacam ‘penetralisir’ Sang Raja Buah. Takaran penawarnya adalah makan empat manggis untuk dua pongge durian. Durian dipercaya memanaskan tubuh, sedangkan manggis bertugas untuk mendinginkannya. Jadi jangan heran bila selalu tersaji manggis di samping durian saat wisata menyantap durian di Negeri Gajah Putih itu. Oalah, ngunu tah.

Selain pengembangan dan peningkatan kualitas Durian Wonosalam, kedepannya Pemerintah Kabupaten Jombang beserta jajaran terkait berupaya untuk melakukan upaya penggunaan limbah durian berikut aneka jenis olahan lainnya untuk dijadikan bahan yang bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Upaya ini juga makin diperkuat dengan pemberian sertifikasi berupa label khusus untuk durian asli Wonosalam. Karena dengan meningkatnya popularitas Wonosalam, tampaknya makin banyak pula pihak-pihak yang mendompleng nama besar Durian Wonosalam dengan menyusupkan durian daerah lain dan mengklaim duriannya dari Wonosalam.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk para pecinta durian sekalian, apalagi penggila Durian Wonosalam. Jangan salah beli durian, jangan percaya pula klaim durian Wonosalam kalau tak beli di petaninya, langsung di Wonosalam.



Tak melulu bumi durian, Wonosalam juga merupakan penghasil salak berkualitas. Komoditas salak yang bisa dipanen sepanjang tahun benar-benar menguntungkan petani. Bahkan seluruh penjuru Wonosalam adalah penghasil salak. Galengdowo dan sekitarnya merupakan pusat kebun salak Galengdowo yang menjadi primadona kebanggaan Wonosalam selatan.

Salak Galengdowo memang terasa lebih istimewa. Salaknya terkenal sangat manis, tanpa rasa kecut sama sekali. Ukurannya besar dan begitu renyah. Dari ukurannya, Salak Galengdowo jelas memiliki daya tarik yang disukai penjual dan pembeli. Selain penampilannya yang sangat menggiurkan, rasanya juga enak. Salak Galengdowo ini pun makin menggoda dan cocok sebagai oleh-oleh yang istimewa bagi penerimanya.



Komoditas salak Galengdowo rupanya sudah dibudidayakan para petani di Wonosalam sejak puluhan tahun lalu.  Awalnya bibit Salak Galengdowo dibawa dari Salak Pondoh Sleman. Karena dibudidayakan di lereng Anjasmoro, akhirnya salak beradaptasi dan ‘bermutasi’ memiliki rasa yang berbeda dari indukannya. Salak Galengowo dikenal sangat manis, tanpa rasa kecut sama sekali. Rasanya renyah, dan berair. Ukurannya yang besar, membuat siapapun yang melahapnya pasti terkesan. Ukurannya besar, manis pula.


Letak Galengdowo yang berada di ketinggian 482 mdpl membuat hawa desa yang berbatasan dengan Medowo, Kediri ini terasa lebih sejuk dibandingkan kawasan Wonosalam lainnya. Suhu yang berada pada kisaran 25-28 derajat celcius, menjadikan siang hari di Galengdowo pun terasa sejuk. Tingkat kesuburan tanahnya tinggi, didukung kondisi geologi desa yang sebagian besar berkontur tanah alluvial hitam yang kaya humus.


Salak memang cocok tumbuh di tanah basah, namun tidak tahan genangan air, serta memerlukan tanah gembur yang banyak mengandung bahan organik. Kondisi tanah yang sangat subur dengan pH yang tepat, menjadi syarat tumbuh salak pondoh yang berkualitas tinggi. Salak Galengdowo bisa dikatakan sangat produktif. Para petani salak mengaku bisa memanen salak lebih dari empat kali dalam sebulan.


Tak heran jika kemudian, Salak Pondoh tumbuh subur dan bertransformasi menjadi Salak Galengdowo yang lebih nikmat dari indukan aslinya. Menariknya, di musim hujan ukuran salak yang dihasilkan bisa semakin besar dibandingkan yang dipanen di musim kemarau.

Masih berduri

Buah berkulit sisik ala Galengdowo ini akan menghasilkan ukuran yang makin besar saat musim penghujan, karena pohon-pohon salak akan ternutrisi dengan optimal. Abaikan pertimbangan ukurannya, Salak Galengdowo begitu istimewa karena tetap tersedia sepanjang tahun. Jadi tak perlu menunggu musimnya untuk menikmati pengalaman memetik buah salak langsung dari pohonnya.

Si Buah Berkulit Sisik dari Galengdowo ini punya karakteristik yang buah bagian atas kerucut dan cembung ginuk-ginukdengan ukuran yang kebanyakan jauh lebih besar dari buah salak pada umumnya. Daging buahnya tebal berwarna putih agak kekuningan dengan bentuk biji normal seperti salak pada umumnya, meski ada yang bilang lebih gepeng dibandingkan Si Kulit Sisik lainnya.

Salak hasil panen di kebun

Warna sisik kulitnya coklat kurma, dengan sedikit warna kekuningan. Yah, miriplah dengan warna kecoa' astaghfirullah, xixixiixixi. Kulitnya mengkilap, membuat tampilannya makin mempesona. Kulit sisiknya ini, terlihat makin mengkilap ketika baru dipanen. Mungkin bisa dikatakan karena faktor fresh dan organiknya. Jadi bisa dikatakan, buah yang punya nama ilmiah Salacca zalaccadari Galengdowo ini tak hanya menggiurkan dari segi rasa, tapi juga menggairahkan dari segi penampilan.

Karena rasanya yang begitu nikmat, Salak Galengdowo bahkan lebih enak dimakan ‘hidup-hidup’, tentu dengan mengupas dulu kulitnya lah yaaa. Yang Jelas, salak Galengdowo tak perlu diolah menjadi aneka olahan salak seperti camilan Snake Fruit yang sedang populer di sudut lain Jombang. Sebab sudah enak!


Dalam metode pertaniannya, para petani Salak Galengdowo menerapkan penggunaan pupuk organik untuk menyuburkan kebunnya. Biasanya, pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kompos dari kulit kopi dan pupuk kandang yang didapat dari kandang sapi perah warga setempat. Sebagai informasi pula, Galengdowo juga merupakan kampung sapi perah di Wonosalam penghasil susu murni yang sudah menjadi penyumbang produk laktasi nasional.


Supaya panen melimpah, para petani Salak Galengdowo tekun merawat kebunnya dengan metode penyerbukan manual. Serbuk bunga jantan ditaburkan ke bunga betina yang ada di tangkai pohon salak. Saat sudah berbunga, bunga yang sudah dibuahi ‘diblongsong’ dengan plastik.


Bayi Salak

Usaha salak Galengdowo makin menjanjikan. Bahkan perluasan kebun salak pernah mencapai 30 hektar, dan minat petani untuk menanam salak makin banyak. Prestasi Gapoktan Galengdowo dalam menjuarai lomba tingkat propinsi dalam kategori Agribisnis Buah. Usaha ini makin berkembang dan membawa korelasi positif bagi para petani lokal termasuk dalam bidang perekonomian masyarakat sekitar serta turut mewarnai perkembangan buah dalam negeri.

Salak Galengdowo terkenal berukuran besar

Para petani kemudian mendapatkan pendampingan dari GAPOKTAN, sehingga terjadi peningkatan hasil yang cukup menggembirakan. Akhirnya dari peningkatan ini, terjadilah panen raya yang sangat membanggakan. Dari sinilah kemudian digelarlah Bancakan Salak Galengdowo, yang merupakan kenduri versi Salak yang mirip dengan Kendurenan Duren yang juga digelar di Wonosalam.

Bancakan Salak Galengdowo merupakan festival panen raya buah bersisik di Galengdowo yang diselenggarakan setiap tahun di Lapangan Desa Galengdowo. Digelar seperti layaknya tumpengan raksasa salak, Si Kulit Sisik ini dibagikan secara gratis pada masyarakat yang hadir sebagai wujud syukur pada Allah atas panen yang melimpah.


Selama ini, Galengdowo lebih dikenal dengan air terjun Tretes Pengajarannya yang menjadi ikon utama destinasi Wonosalam sejak zaman mbah-mbah kita dulu. Kini, munculnya banyak destinasi wisata di Wonosalam jadi makin meramaikan Desa Galengdowo. Apalagi dibuatlah paket Wisata Argowayang Galengdowo dengan segala destinasinya yang menarik, termasuk Wisata Sejarah Gua Jepang, Wisata Edukasi ke Kampung Sapi Perah, maupun Wisata Petik Salak Galengdowo.



Sayangnya bagi yang berminat berwisata petik salak maupun membeli salak Galengdowo sepertinya harus booking dulu. Komoditas andalan Galengdowo ini memang khusus dijual langsung oleh petani di lumbung salaknya sendiri dan tidak dijual di pinggir jalan karena tak semua penjual salak punya stok ready maupun membuka kebunnya setiap saat.


Bila ingin menikmati salak Galengdowo maupun berwisata petik salak, sebaiknya menghubungi Pak Endon (085259005057) selaku Guide Argowayang AgriEduEco Tourism. Pak Endon inilah yang akan menyediakan Si Buah Bersisik langsung dari petani salak Galengdowo telah ready stock maupun yang siap panen.


Pak Endon (085259005057) Guide Argowayang AgriEduEco Tourism
Anehnya, Salak Galengdowo tak punya nama khusus sebagai jargon andalannya. Hanya Salak Galengdowo, sebutannya tanpa ada nama lainnya. Beberapa petani menyebutnya dengan jenis Salak Pondoh Madu, atau Salak Pondoh Lumut dimana nama ini masih mengusung indukan aslinya tanpa rasa lokal. Padahal, sudah jelas rasa Salak Galengdowo sudah berbeda dari indukan aslinya, bahkan jauh lebih enak.


Bila Wonosalam punya dengan sebutan Bido sebagai unggulannya, Salak Galengdowo belum punya julukan khusus. Saudara sekota Salak Galengdowo dari Tembelang, sudah punya nama khusus yaitu Salak Doyong. Sedangkan Salak Galengdowo masih mengusung nama desanya.
Mungkin Galengdowo perlu mengingat legenda yang beredar di Air Terjun Tretes Wonosalam yang menceritakan salah satu episode kehidupan suami Dewi Anjarwati yaitu Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Bisa jadi, kediaman Raden Baron Kusumo dulunya ada di Galengdowo, bukan?


Bila Jombang City Guide boleh usul, mungkin Salak Galengdowo dijuluki Salak Baron saja. Selain mengusung legenda lokal kisah Raden Baron Kusumo, juga identik dengan komoditas unggulannya berupa Si Buah Bersisik dengan ukuran besar yang pantas dinobatkan sebagai bangsawannya para salak. Hehehehhe….. Jadi Salak Galengdowo punya julukan yang bernapaskan kearifan lokal setempat. Keren, ‘kan???


Baron juga bisa diartikan sebagai bangsawan. Jadi, Salak Baron Galengdowo, bukan hanya salaknya para bangsawan tapi juga bangsawannya para salak! Hehehehehe…..

Salak Baron Galengdowo
Desa Galengdowo
Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang
Tersedia wisata petik salak sepanjang tahun
Info, Booking dan Pemesanan :
Pak Endon Guide Argowayang : 085259005057


Salak Galengdowo sudah terkenal keunggulannya karena rasanya yang sangat manis tanpa rasa sepat dan kecut sama sekali. Salak Pondoh madu, jenisnya. Ukurannya besar, karena hawa sejuk yang menaungi kawasan ini sepanjang waktu.


Tour de Wonosalam berlanjut ke Kebun Salak kawasan Lereng Anjasmoro selatan regional Galengdowo. Banyak kebun salak bertebaran di Galengdowo, yang kebetulan dalam kesempatan kali ini Jombang City Guide berkunjung ke kebun salak milik Pak Kaseran. Jadi kunjungan kali ini berjudul : Wisata Petik Buah Salak Galengdowo.

Salah satu kebun salak Pak Kaseran yang dikunjungi kru Jombang City Guide ada di Jalan Batalyon Merak Galengdowo, dekat dengan Istal Kuda Sekar Wangi. Pagarnya berwarna hijau, dan ada di pinggir jalan. Jadi bila mampir ke kebun salak ini, tak terlalu sulit untuk mencapainya. Apalagi, lokasi kebun salak ini sudah ditandai di Gmaps dengan kata kunci : Kebun Salak Pak Kaseran.

Gerbang Hijau : Pintu masuk ke Kebun Salak Pak Kaseran

Pak Kaseran sendiri, adalah seorang petani salak yang merintis kebun buah bersisiknya ini lebih dari 20 tahun yang lalu. Mula-mula bibit salak ditanam tahun 1987, kemudian mulai berbuah tahun 1991. Total kebun salak Pak Kaseran ada empat hektar, yang berada di tempat yang terpisah.


Salak Galengdowo ala Pak Kaseran ditanam dalam kedalaman 50cm di bawah permukaan tanah. Sebelum ditutup, diberi pupuk kandang yang didapat dari kandang sapi perah yang juga banyak terdapat di sekitar kebun. Jadi bisa dikatakan, salak ini organik karena menggunakan pupuk kandang asli dari kotoran hewan.


Tiap lubang untuk penanaman salak diberi jarak sekitar dua hingga tiga meter di satu sama lain. Karena jaraknya yang berdekatan inilah, Kebun Salak Pak Kaseran cukup rapat dan begitu rimbun, tidak seperti Kebun Salak Pak Faried di Sumber-Wonosalam yang kita bisa berlarian di antara deretan pohon salak layaknya kebun kurma. Meski jaraknya dekat-dekat, salak-salak di kebun pak Kaseran tetap bisa dikunjungi karena terdapat pondok yang bisa digunakan untuk duduk dan memilih salak.

Pondok tengah kebun

Pengunjung yang mampir ke Kebun Salak Pak Kaseran bisa langsung membeli salak hasil panen pagi itu. Bahkan, kita bisa memetik langsung buah salak dengan bantuan petugas. Kalau mau petik sendiri juga monggo, tapi duri dan sisiknya mungkin susyah yaaa.... Jadi, main ke kebun salak di Galengdowo ini, bisa langsung petik salak dari pohonnya dan menikmatinya langsung di pondok yang ada di tengah kebun.

Girang!

Setelah berkunjung di kebun salak, wisatawan bisa memilih membeli salak langsung di kebun atau berkunjung ke kediaman Pak Kaseran. Tentunya, kedua opsi itu punya keunggulan masing-masing.



Makan salak langsung setelah dipetik

Bila membeli salak langsung di kebun, kita bisa petik salak langsung dari pohonnya sekaligus menyantapnya fresh di lokasi. Salak-salak tersebut langsung ditimbang di tempat. Namun jelas, Si Buah Bersisik ini masih punya bulu-bulu yang belum dibersihkan. Sedangkan bila membeli salak di kediaman Pak Kaseran, meski harus berpindah lokasi dari kebun ke rumah pak Kaseran, jelas salak-salak tersebut sudah siap angkut karena telah dibersihkan dari bulu-bulunya.

Salak Bonggol : Masih Berbulu

Karena ada dua opsi itu, Jombang City Guide punya ide untuk membuat pilihan ketiga : Pesan salak dengan menghubungi Pak Kaseran atau Pak Endon terlebih dahulu, kemudian mampir ke kebun salak untuk merasakan sensasi petik buah salak langsung dari pohonnya. Lanjut menikmati hasil petikan sendiri itu freshdi pondok tengah kebun, dan bawa pulang salak yang sudah dipesan tadi. Jadi dua-duanya dapat. Hahahhahahahahahahahahaha……………………… hush.

Membawa sendiri hasil panen salak

Buah berkulit sisik ala Galengdowo ini akan menghasilkan ukuran yang makin besar saat musim penghujan, karena pohon-pohon salak akan ternutrisi dengan optimal. Istimewanya, di luar pertimbangan ukurannya, Salak Galengdowo tetap tersedia sepanjang tahun. Jadi tak perlu menunggu musimnya untuk menikmati pengalaman memetik buah salak langsung dari pohonnya.

Salak Bonggolan barusan panen!

Jangan heran saat panen raya, biasanya warga dan petani setempat akan menghelat Bancakan Salak Galengdowo seperti layaknya Kendurenan Wonosalam. Acara tumpeng salak raksasa itu biasanya diadakan setiap tahun, atas syukur hasil panen yang melimpah. Sebuah acara yang tak boleh dilewatkan.


Destinasi yang ada di Galengdowo umumnya tidak berada dalam satu lokasi khusus seperti layaknya pariwisata bergengsi. Letaknya biasanya terpisah satu sama lain, sehingga baiknya kita menggunakan jasa guide lokal untuk menunjukkan lokasi mana saja yang siap dikunjungi. Salah satu guide lokal tersebut adalah Pak Endon yang akan dengan senang hati memperkenalkan potensi daerahnya sebagai bagian dari Wisata Argowayang Galengdowo.


Salak Galengdowo cocok untuk oleh-oleh, apalagi bagi para penggila salak karena karakteristik salak yang begitu manis. Belanja salak bisa langsung di kebun petaninya. Wisata petik salak temenan!

Ibu-Ibu setelah Wisata Petik Salak

Main ke Galengdowo juga tak lengkap apabila belum melakukan jelajah hutan ke Air Terjun Tretes Pengajaran yang merupakan air terjun ketiga tertinggi di Indonesia. Sedangkan menyantap sayur daun racun yang namanya unik itu bisa jadi pengalaman kuliner yang menarik. Mampir juga ke Kebun Kopi yang bertebaran di Galengdowo. Bisa juga melihat keelokan Anggrek hutan di Rumah Anggrek Kebutan.

Wisata Petik Salak : Bagian dari paket Wisata Argowayang

Sekedar keliling desa naik kuda juga boleh, apalagi hawa sejuk khas pegunungan yang dijamin tak membuat badan kegerahan. Jangan lupa belok ke kampung sapi perah, sambil menikmati susu sapi segar yang fresh langsung dari peternakan. Tur Wisata Argowayang Galengdowo lengkap!!!!

 

Kebun Salak Galengdowo Pak Kaseran
Jalan Batalyon Merak
Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo
Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang
Buka setiap pagi, dengan menghubungi :
Pak Kaseran : 081 230 254 245
Guide Argowayang - Pak Endon : 0852 5900 5057