Pecel Kebon Rojo : Bumbunya Merah

Warung Pecel Kebon Rojo, begitulah namanya. Bertempat di Jalan Wahidin Sudiro Husodo 12, sangat dekat dengan Kebon Rojo, Warung Pecel Kebon Rojo ini buka setiap pagi (buta!) pukul 04.00 WIB dan tutup pukul 14.00 WIB. Salutnya, pecel ini libur selama Ramadhan. Wajarlah, mungkin Ibu Purwati pemilik warung pecel ini ingin berkonsentrasi untuk beribadah dan tidak ingin menjual makanan di siang hari selama Ramadhan, karena hukumnya haram.



Pecel Kebon Rojo : Jl. Dr. Sutomo 12 Jombang


Ibu Purwati, Pentolan Pecel Kebon Rojo

Warung pecel yang namanya serupa dengan tempat ramai di sampingnya ini, sepertinya adalah salah satu saksi hidup yang mengiringi perkembangan Jombang dan masih setia dikunjungi para penggemarnya. Pelanggan setia warung ini termasuk beberapa Gus yang mengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang lho.....




Dilengkapi Srundeng

Dari segi rasa, bumbu pecel warung ini cukup unik. Dengan rasa pecelnya yang khas, warna merah pada bumbunya yang kental menjadi keunggulannya. Mungkin kalau di Mojosongo Jombang ada kikil merah karena warna temboknya merah, kalau ini bisa disebut Pecel Merah, karena bumbu pecelnya memang berwarna merah. Ada rasa pedas, meski tidak sepedas makanan-makanan dengan tantangan pedasnya seperti Nasi Goreng Cak Topa yang bikin masuk UGD. Xixixixi.... Pedasnya pas, tidak membuat mulut nyonyor atau perut panas akibat siksaannya. Masih bisa ditolerir kok... J

Bumbu Pecel Merah
Lautan Bumbu Pecel Merah Membara
Untungnya bumbu dijual pula disini, berikut aneka kerupuk sebagai camilan atau pendamping santapan. Ada keripik tempe, rambak, kerupuk udang, kerupuk uyel, bahkan ada pula kerupuk tengiri. Minuman yang disediakan juga wajar seperti warung pecel pada umumnya : teh hangat dan es jeruk.

Aneka Krupuk


Menyantap Pecel Merah Kebon Rojo

Bila Anda mau yang lebih khas Jombang lagi, bisa minum Es Soda Temulawakyang merupakan minuman asli Jombang BERIMAN. Es Soda ‘Bir’ Ajaib ini juga tersedia di Warung Pecel Kebon Rojo ini.


Es Soda Temulawak Khas Jombang

Hanya saja, yang membuat terbelalak adalah lauknya. Mungkin pilihan empal, tempe, telur asin, dan ayam goreng sudah biasa. Yang menggemparkan adalah telur dadar dan telur ceploknya. Telur dadarnya luar biasa tebal, telur ceploknya mungkin seluas Rusia........!!!!!! whiiiiiyyy.............Piring saya sampai tertutup sepenuhnya oleh telur-telur ini. Gile benerrr.... Juara!!!!!
Dadar Raksasa

Telur Mata Sapi yang menutupi seluruh Nasi Pecel
Pilihan Lauk
Sayangnya, asap rokok masih membahana di Warung Pecel ini. Cukup tersiksa bila sedang makan dan hidung meler akibat mulut kepedasan dan ada ‘ahli hisap’ yang ‘menyembur-nyemburkan’ asap beracun di sekitar Anda. Oh teganya......







Kadang bisa antri kayak gini
Tiap orang bungkus lima belas bungkus... gileeee

Jadi selain Warung Pecel Pincuk Bu Djiah, masih ada Nasi Pecel di Jombang yang juga punya rasa yang tak terlupakan (cieeeeee.............), ini adalah warung Pecel Kebon Rojo. Jadi, bila Anda mampir ke Jombang di pagi hari, jangan lewatkan untuk mencicipi pecel merah Kebon Rojo ini. Belilah juga bumbu pecelnya untuk oleh-oleh. Dijamin, Anda pasti akan rindu mampir lagi ke Jombang.... J  


Jombang Car Free Day


Tak mau kalah dengan kota besar yang menghelat Car Free Day, Jombang pun mengadakan acara bebas kendaraan bermotor ini di Jalan Wahid Hasyim yang dimulai dari Menara Air Ringin Conthong. Sepanjang Jalan Wahid Hasyim ditutup dan dijaga oleh aparat kepolisian, mulai pukul 05.30 WIB sampai 08.30 WIB.


Jombang City Guide berkesempatan hadir dan
mengambil gambar di momen mingguan warga Jombang ini.









Selama Car Free Day, kendaraan bermotor sebatas sepeda motor masih boleh melintas di jalan kecil tempat becak dan sepeda di sepanjang jalan Wahid Hasyim, dengan catatan tidak mengendarai kendaraannya terlalu kencang.



Acara ini disambut baik oleh warga Jombang, khususnya anak-anak yang merupakan peserta terbanyak yang memenuhi sepanjang jalan Wahid Hasyim tempat diselenggarakannya Jombang Car Free Day.





Tak seperti anak-anak di kota besar yang kebanyakan datang Car Free Day dengan orang tuanya, sebaliknya mayoritas arek-arek Jombang ini datang bersama teman-temannya tanpa orang tua mereka. Secara mandiri, anak-anak ini berolahraga, sepedaan, lari-lari, sepakbola dan berjalan-jalan santai tanpa pengawalan orang tua. Hal ini bukalah sebuah masalah, karena arek Jombang memang anak yang mandiri dan kebanyakan dari mereka berasal dari rumah yang dekat dengan jalan Wahid Hasyim, sehingga tetap aman untuk mengikuti Car Free Day dan tentunya didukung penuh oleh pengawalan aparat kepolisian yang bertugas.





Warga Jombang peserta Car Free Day ini memanfaatkan waktu dengan berolah raga, dan kebanyakan dari mereka bersepeda santai. Diantara mereka ada yang mengendarai sepedaria bersama yang unik. Bahkan ada satu yang sepedaria bersamanya tingkat. Kreatif sekali, mengingatkan kita pada bis tingkat di Surabaya di awal 90an.






Uniknya, masih jarang penjual dan penjaja makanan selama Car Free Day ini, sehingga Jl. Wahid Hasyim masih aman dan bersih oleh sampah bekas konsumsi. Cepat atau lambat, penjaja makanan ini akan memenuhi acara Car Free Day seperti di kota-kota besar, sehingga perlunya kesadaran masyarakat dan peserta untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah di tempatnya perlu ditekankan. Olahraga sehat rek, tapi yo dijogo kuthoe cek gak rusuh...